Selasa, 19 Mei 2009

Penanganan Fisioterapi Pada Osteoarthritis

Osteoarthritis
Osteoarthritis ditandai oleh nyeri yang biasa pada tangan dan sendi-sendi seperti lutut, hip, dan tulang belakang. Prevalensi penyakit ini paling banyak pada individu dengan usia 45 tahun ke atas. Perempuan paling banyak menderita OA
• Osteoarthritis mengenai sekitar 21 juta penduduk AS dan ditandai adanya rasa nyeri sedang pada sendi yang bergerak
• Khususnya sendi penumpuh berat badan (knees, hips, feet and back)
• Penyakit ini ini paling sering terjadi pada wanita
• Usia 45 tahun ke atas

Apa itu OA?
Penyakit sendi degenerative, OA adalah salah satu bentuk arthritis yang paling tua. Penyakit ini menimbulkan kerusakan kartilago yng ditemukan dalam persendian. Kerusakan ini melepaskan penghalang antara tulang dan menyebabkan kedua tulang saling bergesekan, sehingga menimbulkan rasa nyeri dan bahkan hilangnya gerak. Gejala-gejala termasuk rasa nyeri (kadang setelah latihan atau adanya masa pembebanan yang lama pada sendi penumpuh berat badan) dan menghambat atau bahkan menghilangkan jarak gerak sendi.




PENYEBAB

• OA Primer umumnya berkaitan dengan pertambahan usia.
• OA Sekunder biasanya disebabkan oleh penyakit yang lain, termasuk obesitas, gout, trauma berulang




Ketika permukaan kartilago yang mengalami kerusakan, lutut yang rusak akan mengalami deformitas seperti bowleggedness (varus) atau knock knees (valgus). Deformitas ini akan dapat memberikan kontribusi rasa nyeri dan hilangnya fungsi sendi lutut.
• Adalah degenerative joint disease, penyakit ini menyebabkan rusaknya kartilago dalam persendian.
• Kerusakan ini membuat hilangnya “buffer” diantara tulang pembentuk sendi, sehingga tulang saling bergesekanan
• Gesekan tersebut mengakibatkan rasa nyeri
• Bahkan kehilangan rasa nyeri
• Gejalanya termasuk nyeri sendi (kadang setalah latihan atau adanya pembebanan berat badan saat berdiri lama
• ROM menjadi terbatas dan bahkan hilang
Ketika permukaan kartilago sendi mengalami kerusakan maka sendi tersebut akan kolaps Sendi akan mengalami deformitas, seperti bowleggedness (varus) atau knock knees (valgus). Kecacatan ini dapat memberikan kontribusi terhadap rasa nyeri dan gangguan fungsi pada lutut

Bagaimana sampai seseorang menderita Osteoarthritis?
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan berkembangnya dan menjeleknya penyakit tersebut:
Faktor resiko termasuk:
• Penuaan
• Obesitas
• Trauma sendi (olah raga, kerja atau kecelakaan)
• Genetika
Bagaimana sampai seseorang mengetahui bahwa dirinya mengalami osteoarthritis?
Seseorang harus mencari suatu diagnosis dari seorang dokter. Setelah pemeriksaan fisik dan rincian gejala yang telah didiskusikan, dokter kemungkinan akan merekomendasikan X-foto untuk mengkonfirmasikan keberadaan penyakit tersebut.
Bagaimana Prinsip Manajemen Fisioterapi OA
Selain mengendalikan berat badan dan mencegah aktivitas latihan yang memberikan pembebanan pada kartilago sendi, sebenarnya tidak terdapat pengobatan khusus untuk memperbaiki degenerasi kartilago pada OA.
Tujuan pengobatan OA adalah untuk mengurangi nyeri sendi dan peradangan sendi sambil mempertahankan fungsi sendi.
• Istirahat pada sendi yang nyeri akan menurunkan pembebanan pada sendi dan bengkak pada sendi.
• Pasien diminta untuk mengurangi intensitas dan frekuensi aktivitas yang berkonsekuensi dengan timbulnya nyeri sendi
• Latihan pada OA dilakukan dengan level yang tidak menimbulkan nyeri.
• I : Perkuat otot yang ada disekitar sendi dan cegah “freezing up” dan mobilitas sendi
• II : Bantu menurunkan BB dan perbaiki daya tahan
• III: Berikan local heating sebelum latihan dan cold pack setelah latihan untuk mencegah inflamasi
• Rendaman Paraffin wax, rendaman air hangat, pemakian pakaian hangat (kaos tangan) membantu mengurangi keluhan.
Tipe Latihan yang sebaiknya diberikan
• Aktivitas aerobic untuk 30 menit dan dengan frekuensi setiap hari
• Contoh aktivitasnya adalah : Berjalan, berenang dan bersepeda
• Lakukan juga latihan beban 2 x seminggu
• Warming up selama 5 menit sebelum latihan
• Berjalan secara perlahan dan penguluran adalah aktivitas waming up yang baik
• Lakukan juga cool down dengan penguluran selama 5 menit saat selesai latihan
• Latihan hanya baik saat perasaan pasien enak
• Jika latihan tidak dilakukan dalam 2 minggu maka pastikan mulai latihan secara perlahan



Bagaimana opsi pengobatan OA?
Opsi pengobatan OA, termasuk:
• Latihan pada sendi dan otot untuk meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas
• Penatalaksanaan berat badan untuk menurunkan pembebanan pada sendi
• Pengobatan dengan obat Anti-inflammatory untuk kasus penyakit sendi degenerative
• Terapi panas/dingin
• Synovectomy (bedah pengeluaran jaringan synovial yang meradang)
• Osteotomy (restrukturisasi tulang pada area yang mengalami pembebanan berat badan agar menjadi jaringan yang lebih sehat)
• Partial knee replacements (unicompartmental knee – pelepasan bagian dari sendi yang mengalami gangguan sendi)
• Total knee replacement (diberikan jika OA yang terjadi sangat berat)
Bagaimana Aktivitas fungsional dan Rekreasinya?
• Berenang
• Berjalan
• Melihat pemandangan
• Sepeda statis tanpa tahanan
• Latihan mengangkat beban
• Memancing
• Rileksasi dan music terapi
Contoh kegiatan AFR
1. Berenang di Pantai yang hangat
2. Berendam dalam kolam renang dengan suhu yang cukup hangat
3. Latihan static kontraksi otot tungkai saat menonton TV
4. Latihan mengangkat beban

Jumat, 03 April 2009

Akademi Fisioterapi Makassar


Rekan-rekanku di Kampus Hertasning tahun 1986
Kita masih bisa tersenyum bersama menapak asa fisioterapi di Makassar dan Indonesia untuk menjadi yang terbaik
Saat ini kita telah tersebar di seluruh penjuru tanah air sebagai Fisoterapis dengan segundang gelar tambahan, tapi tetaplah ukir dalam hati dengan keikhlasan bahwa kita adalah satu dalam bingkai Ikatan Alumni Fisioterapi Makassar

Material Manual Handling






Teknik mengangkat memberi peluang untuk terjadinya keluhan muskuloskeletal, seperti Law Back Pain dan Shoulder Pain
Agar dapat meminimalkan resiko tersebut, maka dibutuhkan pemahaman tentang tata cara mengangkat yang baik dan benar

Claudication Exercises





PROSEDUR LATIHAN PADA KLAUDIKASI BERKALA

1. Posisi penderita tidur terlentang dengan kedua lutut diluruskan.
Mintalah pasien untuk menggerakkan pergelangan kaki kearah atas sedang kaki yang satunya ke arah bawah. Gerakan dipertahankan selama 6 – 8 hitungan hingga terasa adanya penarikan pd otot-otot betis kemudian rileks.

2. Posisi sda no. 1
Mintalah pasien menggerakkan sendi pergelangan kakinya dengan arah gerakan memutar ke dalam dan kluar. Rangkaian gerakan dilakukan secra perlahan, dngan durasi 6 – 8 detik setap satu siklus gerakan kemudian rileks.
3. Posisi sda no. 1
Mintalah pasien untuk menekuk lututnya kearaah dada yang kemudian dipertahankan oleh pasien dgn memegang lutut selama 6 – 8 hitungan,selanjutnya lakukan pda kaki yg satunya.
4. Posisi penderita duduk diatas tempat tidur dengan kedua tungkai lurus, kemudian mintalah pasien untuk menyentuh ujung jari kaki dan pertahankan selama 6 – 8 hitungan.
5. Posisi penderita duduk disamping bed .
Mintalah pasien untuk meluruskan salah satu sendi lututnya hingga sejajar dgn paha, kemudian perintahkan untuk menggerakkan sendi pergelangan kakinya kearah atas, kebawah, memutar kedalam dan keluar yang setiap gerakannya dipertahankan 6 – 8 hitungan kemudian rileks.lakukan yang sama pd tungkai yg satunya.
6. Posisi sda no. 5
Mintalah pasien untuk menekuksalah satu sendi pangkal paha sekitar 120° , kemudian perintahkan pasien untuk menggerakkan sendi pergelangan kaki pd paha yg ditekuk untuk melakukan gerakan ke atas, ke bawah serta memutar ke luar dan ke dalam secara lambat dan dipertahankan selama 6 – 8 hitungan kemudian rileks.
7. Posisi pasien berdiri.
Mintalah pasien untuk berposisi seperti akan melangkah, dgn satu tunngkai didepan tertekuk sekitar 120°, sedang tungkai yg dibelakang dlm posisi lurus, kemudian lakukan gerakan seperti akan melangkah dimana ujung jari kaki tetap dilantai, sedangkan telapak kaki dan tumit terangkat dari lantai. Pertahankan posisi ini 6 – 8 hitungan kemudian rileks. Lakukan yang sama pada tungkai yang satunya.
8. Posisi sda no. 7
Mintalah pasien untuk merapatkan kedua kakinya dan tangan memegang ujung meja atau tempat tidur, kemudian menjinjit selama 6 – 8 hitungan, selanjutnya dgn kaki tetap jinjit suruh jongkok dan pertahankan 6 – 8 hit setelah itu mintalah untuk berdiri kembali dgn posisi tetap dlm keadaan jinjit dan pertahankan selama 6 – 8 hitungan kemudian rileks.
9. Posisi berdiri dgn satu kaki diletakkan di atas bangku yg tingginya 20 cm, sedng kaki yg satunya tetap dlm keadaan lurus dibelakang.
Mintalah pasien untuk miring kedepan dgn tetap mempertahankan agar tungkai yg dibelakang dlm kedaan lurus, sedang tungkai yg diletakkan pd bangku makin ditekuk serta dipertahankan 6 – 8 hitungan. Lakukn sec. Bergantian.
10. Posisi sda no. 7
Mintalah pasien untuk menekuk salah satu lututnya secara maksimal sehingga betis dan paha saling bertemu, kemudian pegang dgn tangan yg sesisi dr kaki tersebut, selanjutnya tarik kaki tsb. Kebelkang hingga otot pha bagian depan terasa tertarik. Pertahankan selama 6 – 8 hitungan. Lakukan pd tungkai yang satunya.
11. Posisi sda no. 7
Mintalah pasien untuk menunduk kedepan dengan jari-jari tangan berusaha menyentuh ujung jari kaki, pertahankan agar tungkai bawah tetap lurus hingga terasa adanya penarikan otot-otot bagian belakang tungkai. Pertahankan gerakan ini selama 6 – 8 hitungan kemudian rileks.

Kamis, 02 April 2009

Wisuda S1 Fisioterapi Profesi


Boleh juga !!!

Wisuda S1 Fisioterapi Profesi


Santai dan senang dari wisudawan S1 Fisioterapi Profesi Unhas tahun 2009

Skoliosis

Istilah skoliosis digunakan untuk menggambarkan terjadinya deviasi kurva tulang belakang secara abnormal. Kurva ini dapat berkembang 1 kurva atau yang berbentuk C dan juga dapat berkembang 2 kurva atau yang berbentuk S.

Skoliosis biasanya berkembang pada bagian tulang belakang thorakal atau area di antara bagian punggung atas dan bagian punggung bawah (area thorakolumbar). Hal ini mungkin juga terjadi pada bagian punggung sisi bawah (tulang belakang lumbal)
Penyebab Scoliosis dan faktor resiko
Skoliosis data disebabkan secara;
 Kongenital
 Developmental atau perkembangan
 Degeneratif atau proses penuaan
 Idiopathic (penyebab yang tidak diketahui
Skoliosis congenital; hal ini relatif bentuk yang jarang dari kesalahan formasi congenital dari tulang belakang. Pasien dengan skoliosis congenital akan berkembang menjadi skoliosis deformitas saat bayi.
Skoliosis neuromuscular; hal ini mungkin terjadi saat kurva tulang belakang ke satu sisi yang disebabkan oleh kelemahan otot spinalis atau masalah neurologis. Bentuk dari skoliosis ini biasanya pada seseorang individu yang tidak dapat berjalan karena kondisi neuromuscular (misalnya muscular dystrophy atau CP). Hal ini juga biasa disebut dengan myopathic scoliosis
Skoliosis degenertif juga dapat berkembang setelah usia lanjut, di mana sendi-sendi pada tulang belakang mengalami degenerasi dan memacu pembengkokan pada tulang belakang. Skoliosis ini juga disebut Adult Scoliosis
Skoliosis idiopatik merupakan bentuk yang paling umum di mana berkembang pada usia remaja. Karena paling sering terjadi saat remaja maka kondisi ini terkadang disebut juga adolescent scoliosis.
Skoliosis tidak terjadi sebagai dampak dari jenis kegiatan olahraga, pemakaian tas backpack, posisi tidur, postur atau adanya perbedaan panjang tungkai yang kecil.
Tes Scoliosis
Biasanya skoliosis pertama kali terdiagnosis pada saat pemeriksaan di sekolah atau saat pemeriksaan berkala dari seorang dokter pediatric. Umumnya tes yang dilakukan adalah the Adam’s forward bend yang rutin dilakukan di sekolah, dimana grade dari skoliosis ini sudah lebih berat (grade V atau VI).
Tes ini dilakukan dengan cara menyuruh orang tersebut untuk antefleksi dengan lengan di ulur kebawah sampai menyentuh lantai dengan lutut tetap ekstensi sambil diamati oleh pemeriksa dari belakanguntuk mengetahui sudut asimetritas trunkus.
Karena kurva skoliosis biasanya terjadi pada thorax atau pada thoracolumbal (upper back dan mid back), maka biasanya terbentuk juga asimetritas pada tulang belakang lumbal atau pada perbedaan ketinggian level bahu.
• Pemeriksaan fisik untuk memastikan ada tidaknya gangguan neurological. Gangguan neurological yang menyebabkan terjadinya skoliosis jarang terjadi tetapi perlu diperiksa karena skoliosis dapat mempengaruhi spinal cord.
• Sinar X ditujukan untuk membuat konfirmasi diagnosis skoliosis dan memeriksa besarnya kurva tulang belakang. Sinar X memberikan beberapa indikasi jika terjadi gangguan pada kerangka tubuh, sehingga akan turut mempengaruhi pengambilan keputusan pemberian pengobatan
• Terkadang dibutuhkan juga pemeriksaan MRI jika diperoleh pembengkokan pada daerah tulang belakang thoracalis dan cervicalis dan timbulnya gejala neurological yang menunjukkan terjadinya penekanan pada medulla spinalis (brisk reflex). Jika terjadi kurvatur ke sisi kiri karena umumnya kurvaturnya kea rah kanan, atau anak masih sangat muda ( 8 – 11 tahun).
Tergantung pada hasil dari evaluasi klinis dan tes diagnosis, rencana pengobatan dapat direkomendasikan misalnya dengan pemakian brace atau pembedahan untuk memperbaiki atau mengoreksi kurva tulang belakang.
Gejala-gejala Scoliosis
Pada anak-anak dan remaja, skoliosis terkadang tidak memiliki gejala-gejala yang tercatat. Biasanya skoliosis tidak menampakkan gejala sampai pada akhirnya kurva sudah makin menjelek secara nyata.

Seseorang dengan skoliosis akan mempunyai gambaran sebagai berikut:
 Satu bahu lebih tinggi daripada yang lainnya
 Satu tulang bahu lebih menonjol keluar dari pada tulang bahu sebelahnya
 Sisi rongga dada tampak lebih tinggi dari pada yang sebelahnya
 Satu hip tampak lebih tinggi dan lebih menonjol ke depan daripada hip sebelahnya
 Pinggul tampak tidak rata
 Badan akan miring ke satu sisi
 Satu kaki tampak lebih pendek dari pada sebelahnya
Nyeri bukanlah gejala yang khas dari skoliosis. Nyeri punggung pada anak-anak dan remaja yang menderita skoliosis bisa jadi indikasi dari masalah yang lain sehingga harus dievaluasi lebih mendalam.