Minggu, 29 Maret 2009

Reuni 2009


Acara serah terima jabatan dari Ketua IKA Fisioterapi Makassar tahun 2004-2009 (Anshar, S.Pd, M.Kes, RPT) ke Ketua IKA Fisioterapi Makassar terpilih periode tahun 2009-2013 (Dwi Rustyanto, Amd.FT)
Dilaksanakan di Kawasan wisata alam Bantimurung dalam suasana santai setelah 4 hari melaksanakan kegiatan yang super sibuk, yaitu dirangkaikan dengan workshop mobilisasi saraf, laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2004-2009 di Auditorium Inin Nawa Madeceng RS Dr. Tajuddin Chalid serta Back To Campus di Kampus Jurusan Fisioterapi Poltekkes Depkes Makassar dan diakhiri oleh tudang sipulung dan ramah tamah di Bantimurung.
Sukses untuk pengurus IKA Fisioterapi Makassar periode 2009-2013
Selamat bekerja rekan

Wisuda S1 Fisioterapi Profesi


Foto wisudawan S1 Fisioterapi Profesi Unhas yang sedang berfose gembira setelah mengikuti prosesi wisuda tanggal 25 Maret 2009 di auditorium Andi Pangerang Pettarani Universitas Hasanuddin Makassar
Kami menanti kedatangan rekan-rekan fisioterapi Indonesia untuk melanjutkan pendidikan S1 Fisioterapi profesi di Makassar Sulawesi Selatan

Wisuda S1 Fisioterapi Profesi


Alumni angkatan I S1 Fisioterapi Profesi Program Studi Fisioterapi Fakultas kedokteran Universitas hasanuddin Makassar dengan gelar SFT, Physio ternyata dapat juga berpose santai dan tetap asyik
Bravo fisioterapi Indonesia
Semoga menjadi awal dari harapan fisioterapi profesional, mandiri dan tidak terdikte oleh dokter spesialis rehabilitasi medik (Sp. RM)
Kita harus bangkit bersama
Tidak perlu terkotak-kotak oleh background pendidikan (D3, D4 atau S1 Fisioterapi Profesi) yang penting untuk fisioterapi Inonesia yang lebih jaya di kedepan hari
Mohon tetap kompak dan mari sukseskan S1 Fisioterapi profesi yang ada di Unhas Makassar

Wisuda S1 Fisioterapi


Gambar rekan-rekan Fisioterapi yang telah menyelesaikan pendidikan di Program Studi S1 Fisioterapi Profesi pada Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar, dengan Gelar S.FT, Physio.
S.FT adalah gelar Sarjana untuk Fisioterapi
Physio adalah gelar untuk Profesi Fisioterapi
Universitas Hasanuddin adalah Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia Timur dan Progam Studi S1 Fisioterapi Profesi ini berada dalam Fakultas Kedokteran, sehingga apalagi yang menjadi bahan pertanyaan kita sebagai insan fisioterapi di Indonesia.
karena jika kita mendukungnya dengan kuat, maka potensi untuk menuju S2 Fisioterapi dan malahan S3 Fisioterapi akan menjadi kenyataan dari impian kita yang sangat panjang. Bukankah itu telah terbukti untuk Program Studi Keperawatan dimana S2 dan S3nya telah lama teraktualisasikan.
Harapan saya semoga rekan-rekan Fisioterapi Indonesia mensukseskan asa yang ada di Makassar dengan datang berbondong-bondong untuk melanjutkan pendidikan di Unhas dalam Program Studi S1 Fisioterapi Profesi.
Tidak harus menjadi perdebatan mengapa lahirnya di Makassar, tetapi lihatlah sebagai anugrah terindah dari Allah SWT Tuhan Semesta alam.
Harus ada kepedulian kita untuk menjadi profesi mandiri dan lepas dari dokter Sp.RM dan itu hanya bisa dimulai dari perubahan mindset Vokasional menjadi Profesi (lihat UU Sisdiknas perihal apa yang disebut pendidikan vokasional (D1 s/d D4) dan pendidikan Profesi adalah pendidikan setelah menyelesaikan pendidikan S1 dan itu berhasil dibuktikan di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar.
Selamat untuk rekan-rekan menjadi Wisudawan Angkatan I dari S1 Fisioterapi Profesi (S.FT, Physio) yang diwisuda pada tanggal 25 Maret 2009 oleh Rektor Unhas: Prof DR. dr. Idrus Paturusi, FICS,
Terima kasih buat: Pengurus IFI Pusat yang telah memberikan izin prinsip, kepada PPSDM dan Dirjen Dikti atas izin operasional sehingga legalitas formalnya telah lahir dan lahirnya ada di Makassar
Salut untuk rekan-rekan yang mau berlelah-lelah menempuh pendidikan selama 3 semester untuk sarjana dan 2 semester untuk profesi. Semoga angkatan I akan tetap diikuti oleh angkatan II, III dan angkatan seterusnya.
Terima kasih buat Allah SWT atas karunia terindah bagi kami Insan fisioterapi yang haus untuk menempuh pendidikan dan mencari jatidiri sesuai harapan WCPT.
Insya Allah kesetaraan dengan dokter sebentar lagi akan terwujud dan itu ada ditangan saudara-saudari rekan fisioterapi
Bravo Unhas, bravo IFI

Minggu, 22 Maret 2009

Kegel exercises

Kegel Exercises
Kegel exercises adalah suatu rangkaian latihan yang didisain untuk memperkuat otot-otot dasar panggul. Banyak wanita dengan inkontinensia urin dapat mengurangi keluarnya air seni saat batuk, tertawa, bersin atau aktivitas lainnya melalui latihan pada otot-otot dasar panggul. Latihan ini disebut Kegel exercises

Dr.Arnold Kegel mengembangkan Kegel exercises tahun 1948 sebagai suatu metode untuk mengendalikan inkontinensia (ketidakmampuan menahan air seni) pada wanita setelah melahirkan. Latihan ini sekarang direkomendasikan pada:
• Wanita dengan inkntinensia urin karena stress
• Pria dengan inkontinensia urin setelah operasi prostat
• Sesorang dengan gangguan inkontinensia faeses
Kegel exercises memperkuat otot-otot dasar panggul untuk meningkatkan fungsi spinter uretra dan rectum. Keberhasilan latihan ini tergantung pada teknik yang benar dan program latihan yang teratur.
Keuntungan Kegel exercises
Kegel exercises memperkuat beberapa otot-otot yang mengendalikan aliran urin. Kegel exercises direkomendasikan pada seseorang yang memiliki masalah dengan control perkemihan (inkontinensia urin).
Pada wanita, Kegel exercises membantu mereka yang menderita inkontinensia urin karena stress atau prolapsus uterin. Saat hamil dan melahirkan, otot dasar panggul dapat menjadi terulur dan melemah, umumny mengakibatkan masalah pengendalian kencing selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah melahirkan. Kelemahan dasar panggul dapat juga memungkinkan satu atau beberapa organ panggul longgar (prolapsus uterin). Jika anda sedang hamil, mulailah melakukan Kegel exercises setiap hari dan lanjutkan hingga sudah melahirkan
Pada Pria, Kegel exercises digunakan untuk mengobati inkontinensia karena stress dan inkontinensia karena proses desakan, suatu keinginan untuk kencing yang begitu kuat dimana anda tidak dapat mencapai toilet pada saat itu.
Melakukan Kegel exercises
• Kegel exercises mudah dilakukan dan dapat dilakukan dimana saja tanpa diketahui oleh orang lain.
• Pertama, saat anda duduk atau berbaring, berusahalah untuk mengkontraksikan otot-otot yang digunakan untuk menahan kencing. Anda harus merasakan bahwa otot panggulmu menekan saluran kencingmu dan jika perut dan pantatmu mengencang, maka anda tidak melakukan latihan dengan benar.
• Sekali anda telah mengetahui cara yang tepat untuk mengkontraksikan otot-otot panggul, tahan selama 3 detik dan kemudian rileks selama 3 detik.
• Ulangi latihan ini 10 – 15 kali setiap sesi latihan. Usahakan melakukan latihan ini sekurang-kurangnya 3 kali sehari. Kegel exercises hanya efektif jika dilakukan secara teratur. Lebih sering anda latihan, maka latihan ini akan tampak lebih bermanfaat.
• Fisioterapis mungkin mengharapkan anda melakukan latihan ini disertai dengan biofeedback untuk memastikan anda melakukan dengan benar. Biofeedback memungkinkan anda dapat melihat, merasakan atau mendengar saat latihan dilakukan dengan benar.
Banyak orang lebih senang melakukan latihan ini sambil tidur terlentang atau duduk di atas kursi. Setelah 4 – 6 minggu, banyak orang mencatat beberapa kemajuan. Hal ini dapat berlangsung 3 bulan untuk melihat perubahan yang besar.
Pendapat yang salah: Beberapa orang merasa bahwa mereka dapat mempercepat peningkatan dengan cara penambahan jumlah pengulangan dan frekuensi latihan. Meskipun demikian, latihan yang berlebihan sebaliknya dapat membuat otot melemah dan meningkatkan masalah ngompol. Jika anda merasa kurang nyaman pada perut dan punggung ketika melakukan latihan ini, kemungkinan anda melakukannya dengan cara yang salah.
Beberapa orang menahan napasnya atau mengencangkan dadanya ketika berusaha mengkontraksikan otot-otot dasar panggul. Rileks dan konsentrasi pada kontraksi hanya pada otot-otot dasar panggul. Saat melakukan dengan cara yang benar, Kegel exercises akan menunjukkan hasil yang sangat efektif pada perbaikan kontinensia urin.

Water exercises


Daya bouyanci dan resistance dari air akan memberikan manfaat besar bagi program latihan perbaikan pola jalan.
Fisioterapis perlu menganalisis dan efek yang baik guna memotivasi pasien untuk latihan berjalan. Meskipun demikian tetap harus dianalisis Need Assesment pasien

Reuni 2009


Asyiknya kebersamaan rekan-rekan sesama alumni fisioterapi makassar di Bantimurung
Kalo sudah begini siapa yang sanggup mengalahkan kebersamaan cinta kita
Bravo Alumni Fisioterapi Makassar

Reuni 2009


Praktek Neural Mobilisation Oleh Pak Sugiyanto di depan Peserta Reuni IKA Fisioterapi Makassar tahun 2009
Peserta pada asyik menyimak
Bravo buat peserta dan pak Giyanto

Fisioterapi Traumatik

Fisioterapi pada Rudapaksa Akut
Oleh : Anshar Ramada Teja


Sebenarnya untuk mengembangkan suatu Feedback loop of Treatment dalam Fisioterapi yang saat ini dikenal sebagai proses fisioterapi, maka perlu dikenal the natural history of disease (riwayat perjalanan suatu penyakit) sebagai suatu upaya mengenal tingkatan akut atau kroniknya suatu penyakit.
Jika mengacu pada perjalanan suatu penyakit, misalnya karena adanya suatu trauma, maka perlu digambarkan fase-fasenya hingga memahami arti pentingnya proses penyembuhan seperti yang tergambar dalam fase-fase di bawah ini:


Demikian pula dengan tanda-tanda dari suatu inflamasi adalah:
1. Kemerahan
2. Pembengkakan
3. Nyeri tekan
4. Meningkatnya suhu
5. Gangguan fungsi gerak

Berdasarkan tanda-tanda tersebut di atas, maka seorang fisioterapi menjadikan sebagai petunjuk untuk merancang suatu pentalaksanaan pengobatan fisioterapi sekaligus dapat dijadikan sebagai indikator progresivitas keberhasilan suatu program pengobatan.

Untuk itu, diperlukan suatu penerapan proses fisioterapi yang terevaluasi dan reevaluasi, agar dapat memberikan arahan yang tepat dalam mengobati seorang pasien. Hal ini sangat dibutuhkan agar posisi fisioterapi sebagai profesi menjadi lebih aktual dan mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi.

Kerangka acuan pengobatan

Fase Estimasi waktu Gambaran Klinis Kemungkinan modalitas yang digunakan Rasionalisasi penggunaannya
Akut Saat trauma sampai dengan hari ketiga Pembengkakan, sakit saat disentuh, sakit saat digerakkan • Cryotherapy/terapi es
• Electrical Stimulation Current/Stimulasi arus elektris
• Intermittent Compression/penekanan berkala
• Low power laser/Laser power rendah
• Ultrasound
• Istirahat • Menurunkan pembengkakan, dan menurunkan nyeri
• Menurunkan nyeri
• Menurunkan pembengkakan
• Menurunkan nyeri
• Efek non-thermal untuk memacu penyembuhan
Respon Peradangan Hari pertama sampai dengan hari keenam Bengkak berkurang, hangat saat disentuh, perubahan warna kulit, sakit saat disentuh, sakit saat digerakkan • Cryotherapy/terapi es
• Electrical Stimulation Current/Stimulasi arus elektris
• Intermittent Compression/penekanan berkala
• Low power laser/Laser power rendah
• Ultrasound
• Latihan gerak sendi • Menurunkan pembengkakan, menurunkan nyeri
• Menurunkan nyeri
• Menurunkan pembengkakan
• Menurunkan nyeri
• Efek non-thermal untuk memacu penyembuhan
Perbaikan Fibroblastik Hari keempat sampai dengan hari ke sepuluh Sakit saat disentuh, sakit saat digerakkan, bengkak • Thermotherapy/pemanasan
• Electrical Stimulation
Current/Stimulasi arus elektris
• Low power laser/Laser power rendah
• Intermittent Compression/penekanan berkala
• Ultrasound
• Latihan gerak sendi
• Latihan penguatan • Panas ringan untuk meningkatkan alian darah
• Menurunkan rasa nyeri melalui muscle pumping (penekanan otot)
• Menurunkan rasa nyeri
• Memfasilitasi aliran limfatik
• Efek non-thermal untuk memacu penyembuhan
Maturasi dan pembentukan kembali Hari ketujuh sampai dengan pemulihan Bengkak, tidak ada lagi nyeri saat disentuh, berkurangnya nyeri saat digerakkan • Ultrasound
• Electrical Stimulation
Current/Stimulasi arus elektris
• Low power laser/Laser power rendah
• Shortwave diathermy/SWD
• Microwave diathermy/MWD
• Latihan gerak sendi
• Latihan penguatan
• Aktivitas fungsional
• Pemanasan yang lebih dalam untuk meningkatkan sirkulasi darah
• Meningkatkan jarak gerak sendi, meningkatkan kekuatan otot
• Menurunkan rasa nyeri
• Menurunkan rasa nyeri
• Pemanasan dalam untuk meningkatkan sirkulasi darah
• Pemanasan dalam untuk meningkatkan sirkulasi darah

Mengapa digunakan modalitas tersebut, maka ini didasarkan pada beberapa alasan ilmiah, antara lain:
1. Merangsang serabut afferent berdiameter tebal dengan menggunakan Stimulasi arus elektris misalnya dengan TENS
2. Menurunkan kecepatan transmisi serabut nyeri dengan Cold therapy/Cryo therapy atau dengan Ulntrasound therapy
3. Merangsang serabut afferent berdiameter halus melalui mekanisme kontrol nyeri dengan Low pawer laser, TENS teknik titik akupuntur/titik trigger
4. Merangsang pelepasan Beta Endorphin dan opium endogeneous lainnya melalui stimulasi yang lama terhadap serabut saraf berdiameter tipis dengan TENS

Bagaimana hal ini dapat terjadi, maka untuk nyeri itu sendiri terdapat empat mekanisme pengendalian, yakni:
1. Diturunkannya transmisi input sepanjang jalaran nosiseptik
2. Modulasi tanduk dorsalis yang disebabkan oleh input dari afferent berdiameter tebal melalui sistem gate control dan atau pelepasan enkepalin
3. Aktivasi serabut afferent descending yang disebabkan oleh efek dari input afferent berdiameter halus pada pusat yang lebih tinggi, termasuk thalamus, inti rafe, area abu-abu dari periaqueductal.
4. Pelepasan dari pusat opium endogeneous termasuk β-endorphin melalui stimulasi yang lama terhadap serabut afferent berdiameter halus

Sabtu, 21 Maret 2009

Reuni 2009


Malam Tudang Sipulung di Aula Bantimurung

Isotonik Exercises

Isometrik Exercises

Osteo artritis

Osteoarthritis
Osteoarthritis ditandai oleh nyeri yang biasa pada tangan dan sendi-sendi seperti lutut, hip, dan tulang belakang. Prevalensi penyakit ini paling banyak pada individu dengan usia 45 tahun ke atas. Perempuan paling banyak menderita OA
Apa itu OA?
Penyakit sendi degenerative, OA adalah salah satu bentuk arthritis yang paling tua. Penyakit ini menimbulkan kerusakan kartilago yng ditemukan dalam persendian. Kerusakan ini melepaskan penghalang antara tulang dan menyebabkan kedua tulang saling bergesekan, sehingga menimbulkan rasa nyeri dan bahkan hilangnya gerak. Gejala-gejala termasuk rasa nyeri (kadang setelah latihan atau adanya masa pembebanan yang lama pada sendi penumpuh berat badan) dan menghambat atau bahkan menghilangkan jarak gerak sendi.









Ketika permukaan kartilago yang mengalami kerusakan, lutut yang rusak akan mengalami deformitas seperti bowleggedness (varus) atau knock knees (valgus). Deformitas ini akan dapat memberikan kontribusi rasa nyeri dan hilangnya fungsi sendi lutut.


Bagaimana sampai seseorang menderita Osteoarthritis?
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan berkembangnya dan menjeleknya penyakit tersebut:
Faktor resiko termasuk:
• Penuaan
• Obesitas
• Trauma sendi (olah raga, kerja atau kecelakaan)
• Genetika
Bagaimana sampai seseorang mengetahui bahwa dirinya mengalami osteoarthritis?
Seseorang harus mencari suatu diagnosis dari seorang dokter. Setelah pemeriksaan fisik dan rincian gejala yang telah didiskusikan, dokter kemungkinan akan merekomendasikan X-foto untuk mengkonfirmasikan keberadaan penyakit tersebut.
Bagaimana opsi pengobatan OA?
Opsi pengobatan OA, termasuk:
• Latihan pada sendi dan otot untuk meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas
• Penatalaksanaan berat badan untuk menurunkan pembebanan pada sendi
• Pengobatan dengan obat Anti-inflammatory untuk kasus penyakit sendi degenerative
• Terapi panas/dingin
• Synovectomy (bedah pengeluaran jaringan synovial yang meradang)
• Osteotomy (restrukturisasi tulang pada area yang mengalami pembebanan berat badan agar menjadi jaringan yang lebih sehat)
• Partial knee replacements (unicompartmental knee – pelepasan bagian dari sendi yang mengalami gangguan sendi)
• Total knee replacement (diberikan jika OA yang terjadi sangat berat)
Bagaimana Aktivitas fungsional dan Rekreasinya?
Opsi AFR
• Berenang
• Jogging terukur
• Bersepeda
• Disain layout rumah

Senam Ergonomi

==========================================================
Makalah Ilmiah
Workshop “Nerve Mobilitation” dan Temu Alumni Fisioterapi
Ergonomic Exercises Pasca Nerve Mobilitation
Oleh Anshar Ramada Teja
Makassar, 12 Maret 2009
Rasionalisasi
Ergonomic adalah pendekatan natural dalam bekerja, dimana seseorang setelah bekerja akan mengalami kelelahan. Kelelahan ini tentu saja akan mengakibatkan berkurangnya “performance” seseorang dan perlu diantisipasi dengan pendekatan istirahat yang sesuai dengan “Hukum alamiah dalam bekerja”.
Umumnya pekerjaan saat ini menciptakan hipomobility dan cenderung memberikan pembebanan static, misalnya:

Hasil penelitian di Singapura, para tenaga kerja banyak yang menderita Sick Building Syndrome (SBS). Keluhan mereka umumnya cepat lelah 45%, hidung mampat 40%, sakit kepala 46%, kulit kemerahan 16%, tenggorokan kering 43%, iritasi mata 37%, lemah 31%, demikian pula penelitian di Paris terhadap 1505 tenaga kerja, 16 % mengalami gangguan musculoskeletal dan 47% diantaranya didominasi oleh gangguan hipomobility. Keadaan ini cenderung menjadi Trigger factor pada kasus Cummulative Traumatik Disorder (CTD).
Ergonomic exercises
Latihan ergonomic ( Ergonomic exercises) didisain untuk digunakan saat masa istirahat kerja di tempat kerja (workstation area) dan dapat membantu untuk mengurangi rasa kurang nyaman pada seseorang karyawan, karena melalui disain ini dapat memfasilitasi berkurangnya sakit kepala, strain pada mata, leher, punggung dan pinggang, bahu dan nyeri pada pergelangan tangan
Ergonomic exercises berbentuk latihan-latihan yang singkat dan dapat dilakukan secara regular saat waktu-waktu tertentu (istirahat) di tempat kerja.
Tujuan Ergonomic exercises adalah tercapainya “pain-free movement” melalui
 Pembebasan iritasi saraf dan perbaikan fleksibilitas saraf
 Mencegah pembebanan statik
 Normalisasi mikrosirkulasi saraf
 Koreksi postural
 Mobilisasi sendi, jaringan lunak
Prinsip neurofisiologi dari Ergonomic exercises
Disain Ergonomic exercises menggunakan prinsip Contraction-Hold-Relax adalah proses penyesuian terhadap karakteristik neurofisiologis dari jaringan konraktil, seperti:
1. The Muscle spindle (organ sensoris utama dari otot dan tersusun dari serabut intrafusal dan serabut ekstrafusal). Muscle spindle memonitor kecepatan dan durasi penguluran.
2. The Golgi tendo organ (GTO) (merupakan organ yang sensitif terhadap “Tension” otot, dimana saat tension otot berhasil ditimbulkan secara kuat, maka GTO akan menstimulasi rileksasi otot)


Perlu diingat, bahwa latihan ini tidak boleh menimbulkan rasa nyeri dan rasa kurang nyaman.
Mengapa Kita Harus Melakukan Ergonomic Exercises
Seringkali dilupakan bahwa kasus yang ditangani oleh fisioterapis berupa perasaan kurang enak dan limitasi gerak fungsional setelah diberikan treatment yang adekuat seperti nerve mobilitation beberapa saat akan menunjukkan kemajuan yang berarti. Tetapi beberapa hari kemudian akan muncul kembali. Tentunya hal ini akan menimbulkan rasa frustasi bagi kedua belah pihak (fisioterapis dan klien), sehingga dibutuhkan analisis mendalam dan komprehensif segala faktor yang terkait dalam pengentasan masalah klien. Sebagai salah satu rekomendasi yang perlu diberikan adalah perubahan mindset untuk memahami aspek latihan mandiri dan terkontrol, misalnya dengan ergonomic exercises.
Petunjuk latihan Ergonomic exercises
• Kontraksi otot dengan kuat dan rasakan kontraksi tersebut
• Tahan kontraksi otot tersebut selama 5-10 second
• Lemaskan otot tersebut sampai terasa rileks
• Ulangi latihan tersebut sekali lagi
Prosedur Ergonomic Exercises
A. Tangan dan Pergelangan Tangan
Latihan 1
Ekstensi tangan kemudian buatlah genggaman pada tangan.

Latihan 2
Bengkokkan tangan pada sendi metacarpophalangeal, kemudian pertahankan agar jari-jari tersebut tetap lurus lalu ekstensikan.

Latihan 3
Saling genggamkan kedua tangan, putar tangan hingga telapak tangan menghadap ke atas lalu pertahankan posisi tersebut. Lanjutkan dengan memutar hingga telapak tangan menghadap ke bawah.

Latihan 4
Sendi siku dalam keadaan lurus, pegang tangan dengan tangan yang satu. Tekuk sendi pergelangan tangan sambil mempertahankan posisi tersebut beberapa saat. Pindahkan tangan ke sisi telapak tangan dan dorong ke atas ke arah ekstensi sendi pergelangan tangan dengan tetap mempertahankan posisi tersebut beberapa saat. Lakukan pada ke dua tangan

B. Bahu dan Leher
Latihan 1
Dalam posisi duduk, angkat kedua siku ke atas dan kedua tangan saling digenggamkan di belakang kepala. Tarik siku ke belakang hingga terasa penguluran, kemudian kembalikan posisi siku ke depan hingga keduanya saling bertemu.

Latihan 2
Duduk, posisikan kedua siku sejajar dengan level ketinggian bahu, bengkokkan kedua lengan hingga tangan menyentuh bahu. Kemudian luruskan kembali


Latihan 3
Dalam posisi duduk di atas kursi kerja. Pertemukan kedua tangan dlam keadaan ekstensi di atas kepala, kepala dalam keadaan rileks dan secara perlahan melakukan laterofleksi ke kanan dan kiri. Pertahankan agar posisi tubuh tetap dalam keadaan lurus.

Latihan 4
Dalam posisi duduk, rilekskan bahu kemudian angkat kedua bahu ke atas dan pendekkan leher.

Latihan 5
Duduk dengan kedua tangan pada bagian belakang badan. Satu tangan diletakkan di antara kedua scapula, tangan yang lain mendorong ke bawah dengan dorongan di sekitar siku. Ganti dengan sisi yang lainnya.

Latihan 6
Posisi berdiri atau duduk; palingkan kepala ke kanan dan ke kiri. Pertahankan agar kepala dan tulang belakang tetap lurus.

C. Anggota Gerak Atas
Latihan 1
Duduk, satu tangan menyilangi dada sedangkan tangan yang lain menekan di siku. Palingkan kepala ke arah bahu dari tangan yang sedang diberikan tekanan. Ulangi untuk tangan yang sebelahnya.

Latihan 2
Duduk, kedua siku diangkat selevel ketinggian bahu, putar badan ke kiri dan ke kanan dengan gerakan yang perlahan

Latihan 3
Duduk, kedua siku diangkat sebatas level bahu dan tekuk kedua siku hingga tangan saling bertemu di depan dada. Luruskan legan ke samping dan belakang. Kembalikan kedua lengan ke depan.

D. Pengurangan Ketegangan
Latihan 1
Posisi duduk di kursi, kedua kaki menapak di atas lantai dan tangan di letakkan di kedua lutut. Ekstensikan kedua tungkai dan lengan hingga terulur sepenuhnya, jari-jari tangan dan jari-jari kaki ekstensi kemudian kembali ke keadaan semula lalu rileks.

Latihan 2
Duduk. Secara bergantian ibu jari kaki disentuh dengan tangan yang kontralateral. Sementara tangan yang ipsilateral ke arah atas kepala, sehingga terjadi penguluran secara nyaman pada area trunkus. Kepala harus berpaling melihat tangan yang diangkat

Latihan 3
Ambil waktu sejenak untuk berdiri sambil berjalan beberapa saat untuk membantu meluruskan badan serta melatih tungkai secara general.

Latihan 4
Posisi duduk, kedua tangan disisi belakang badan, satu di sisi atas bahu dan satunya di sisi bawah bahu. Berusahalah untuk saling mempertemukan kedua tangan tersebut. Lakukan untuk tangan satunya dan ulangi latihan tersebut

Rekomendasi tambahan dalam pencegahan CTD pada klien adalah:
• Hindari beban kerja static saat bekerja
• Beban angkat dan angkut tidak melebihi standar ILO
• Pada pekerja computer, istirahatkan mata dengan melihat kejauhan setiap 15-20 menit.
• Istirahat 5-10 menit tiap satu jam kerja.
• Lakukan peregangan dan senam saat istirahat (ergonomic exercises)
Referensi:
Carolyn Kisner dan Lynn Allen Colby, 1996, Therapeutic Exercises Foundations and Techniques, 3rd Edition, F.A. Davis Company, Philadelphia, USA
Tarwaka dkk, 2004, Ergonomi Untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas, Uniba Press, Surakarta, Indonesia
Noor Fitriana, Bekerja di depan Komputer yng ergonomis, diakses dari www.batikjogja wordpress.com tanggal 5 januari 2009
Occupational Health, Safety and Welfare, 2009, Ergonomic Exercises, Hampshire Fire and Rescue Service, diakses dari www.ergonomic.com tanggal 20 Januari 2009

Seni hipnosis

Kamis, 12 Maret 2009

Workshop Neural Mobilitation

Pelaksanaan workshop sebagai rangkaian kegiatan reuni alumni fisioterapi makassar sejak tanggal 12 s/d 13 Maret 2009 telah berlangsung dengan jumlah peserta sekitar 60 orang. Hari I, setelah pembukaan oleh Bapak Ketua Jurusan Drs. H. Mustari Gani, SMPh, MPd. Acara ini turut dihadiri oleh Perwakilan dari Dinas Kesehatan prop. Sulse dan Direktur RS Dr. Tajuddin Chalid. Pembicara Mobilitation Neural yang kemudian dibuat Istilah oleh Bapak Drs. H Djohan Aras, SFT (Physio), MPd dengan istilah MONAS (Mobilitation of Nerve as A System) membahas Mobiliasasi saraf di kinik untuk area Columna Vertebralis, Dr. Cahyono Kaelan, P.hD, SpS dengan pembahasan tentang Patofisiologi Saraf Perifer.
Bahasan menarik juga dikemukakan oleh Bapak Sugiyanto, Dipl.PT yang mengangkat penatalaksanaan pada Lower Quadrant dan Upper Quadrant. Selanjutnya Anshar RamadaTeja membahas Ergonomic exercises sebagai rekomendasi untuk dilakukan pada klien setelah discharge guna meminimalkan kejadian recurrent. Selamat mencoba semua yang telah diperoleh selama workshop.

Rabu, 11 Maret 2009

Selasa, 10 Maret 2009

LPJ IKA Fisioterapi Makassar

Ada beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh periode kepenguruan IKA Fisioterapi makassar, yang pada tanggal 14 Maret 2009 akan merayakan ulang tahun kelahirannya.
Berdasarkan hasil pemantauan terhadap pelaksanaan yang diamanatkan ke pengurus, maka kami ingin menggambarkan bahwa ada beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan:
1. Tahun 2004 melaksanakan Workshop di PMCC dengan judul Pijat Bayi dan keynote speaker : Dr. Utami
2. Tahun 2005 melaksanakan Workshop di Auditorium Akfis dengan judul Manual terapi pada Columna Vertebralis (pembicara Baak Sugiyanto, Dipl. PT)
3. Tahun 2006 melaksanakan Workshop di Auditorium Akfis denganpembicara Dra. Irawaty Chaidir
4. Tahun 2008 melaksanakan Workshop di Bapelkes dengan tema NMT pembicara Drs Djohan Aras, Dip. PT, MPd
5. Tahun 2009 melaksanakan Reuni yang dirangkaian dengan Workshop dan pembahasannya adalah Nerve Mobilitation
6. Kegiatan Silaturrahmi seperti rapat di Pantai Akkarena, Warung Kopi Phoenam, Warung makan Hj. Anni dan Tanjung Bayam
7. Rapat-rapat kegiatan di rumah-rumah anggota: Ibu Dharma, Pak Taufik, Pak Dwi, Pak Kartika Agung, Pak Anshar dan beberapa tempat lainnya
Kegiatan-kegiatan tersebut berkat kerjasama dengan para pihak; Jurusan Fisioterapi, IFI Cab. Makassar, Johnson&johnson, Flexasure, Sophie martin dll
Begitupula dengan kerjasama antar pengurus membuat dinamika organisasi IKA Fisioterapi makassar dapat tetap berjalan. Meskipun demikian kelemahan dari Kami (Anshar) selaku Ketua IKA yang diberi amanat sehingga masih banyak yang tidak berjalan dengan baik. Semoga kelemahan dan kekurangan kami tidak dijadikan panutan untuk melaksanakan kegiatan di waktu-waktu mendatang.
terima kasih dan selamat bekerja buat pengurus yang baru. Maafkan saya jika tidak dapat memberikan kesempurnaan pembelajaran berorganisasi. Motto kita adalah tetap Working together in Harmony and Trust"

Postur Normal